Eksistensi Tiada Arti Tanpa Esensi: Kisah Mang Ipin, Peraih Kalpataru 2014

‘BANYAK’ pada Banyak Jalan Menuju Roma sungguh relatif. Relatifitasnya bukan bergantung pada berapa banyak jalan yang pernah kau lihat atau ketahui tetapi pada berapa banyak jalan yang sanggup kau bayangkan.

Begitulah kiranya yang hendak disampaikan seorang pengojek di kaki Gunung Papandayan, Garut, kala mengisahkan usaha panjang mengembalikan keseimbangan alam di lingkungannya.

Ipin, nama yang sesederhana sikap dan tutur katanya. Kecuali beberapa giginya yang sudah tanggal, perawakannya mengingatkan pada pohon gaharu yang menjulang perkasa. Tepat setelah meninggalkan bangku sekolah kelas III SD, panggilan dari gunung membuatnya sedemikian jatuh cinta pada alam.

Mang Ipin

Melihat perbukitan di belakang rumahnya yang tak lagi hijau akibat ulah manusia, Ipin tak tinggal diam. Adalah amanat Sang Ibu tentang pentingnya air yang membuat lelaki murah senyum itu selalu gelisah.

Berpuluh tahun, apapun dilakukannya mulai dari menyebar bibit, membabat gulma, membuat saluran irigasi, membuka jalan, membangun kirmir, mengumpulkan sampah di objek wisata Gunung Papandayan, hingga turut mencari pendaki hilang. Beberapa bulan terakhir, Ipin bekerja tak kenal lelah mengembalikan kondisi situ Ciseupan di sisi timur Gunung Papandayan.

Situ Ciseupan sudah lama kering sampai kehilangan bentuk asli dan berubah menjadi lapangan. Di sana, dengan hanya bersenjatakan cangkul dan ember kecil, Ipin terus menggali sampai jemari kakinya tergenang air yang keluar dari celah celah tanah.

Mang Ipin menggali mata air yang akan mejadi cikal bakal Danau Ciseupan, di kaki Gunung Papandayan, Desa Sirnajaya, Cisurupan, Garut, Jawa Barat

Mang Ipin menggali mata air yang akan mejadi cikal bakal Danau Ciseupan, di kaki Gunung Papandayan, Desa Sirnajaya, Cisurupan, Garut, Jawa Barat

Semula, warga yang memergoki sempat sangsi dan menertawakan. Namun, dia yakin sikap warga akan berubah kala melihat debit air mulai banyak. Kini danau seluas sekitar 1 ha dengan kedalaman 2 meter menjadi bukti kelahiran kembali Situ Ciseupan. Pekerjaan tak lantas selesai. Ipin terus menggali tetapi tak lagi sendiri. Di sekelilingnya kini banyak warga yang membantu. Meski ukuran danau masih kecil, debit airnya mampu memenuhi kebutuhan irigasi.

Saluran air sepanjang 4 km dari mata air Dayeuh Luhur yang dibuatnya juga telah memenuhi kebutuhan air bersih di dua masjid. Pun demikian dengan jalan sepanjang 3 km yang kini menjadi jalur utama pengangkutan hasil kebun.

Mimipinya, danau seluas sedikitnya 4 ha lengkap dengan surau, pondok pondok, dan taman arboretum dapat terealisasi dalam beberapa tahun mendatang. Pasokan air melimpah dan  roda perekonomian rakyat pun diharapkan ikut terdongkrak.

Seingatnya, dia mulai lebih serius mengabdi pada lingkungan sejak tahun 1980. Berawal dari menjadi pengojek yang mengangkut hasil kebun, penghasilannya selalu disisihkan untuk perbaikan lingkungan. Lambat laun, mulai banyak pengojek yang tertarik dengan sehingga terbentuklah komunitas pegiat lingkungan yang dinamai Rawayan. Komunitas yang juga bergerak di bidang sosial kemasyarakatan.

Ketekunan itulah yang akhirnya diganjar pengharagaan Kalpataru 2014 kategori Perintis Lingkungan. Pada 5 Juni 2014, Ipin menerimanya langsung dari Wakil Presiden, Boediono di Istana Wakil Presiden, Jakarta. Di antara 13 penerima penghargaan, Boediono paling terkesan dengannya.“Tukang ojek? Ini yang saya cari,” tuturnya menirukan perkataan Boediono.

Sejatinya, kolega dari kota yang mengatahui usaha keras Ipin sudah mengusulkan agar dia mendapat Kalpataru sejak beberapa tahun silam. Namun, kakek 2 cucu itu kerap menolak. Dia merasa apa yang diperbuat tidaklah istimewa. “Bukankah memang sudah kewajiban kita?” tanyanya retoris.

Tidak patah arang, beberapa rekan di Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan Garut serta para pegiat lingkungan lantas menjebaknya untuk menyetujui proposal pengajuan. Persitiwa penjebakan tersebut selalu dikenangnya dengan tawa.

Lelaki 52 tahun itu rupanya sangat dikenal di kalangan perguruan tinggi. Banyak mahasiswa dan dosen, sebutlah dari ITB, IPB, dan Unas Jakarta yang mendapat bantuannya saat melakukan penelitian di Gunung Papandayan.

Setelah piala Kalpataru menjadi penghuni baru rumahnya di Kampung Pasir Sereh RT 3 RW 4, Desa Sirnajaya, Kecamatan Cisurupan, muncul semangat berbeda di benaknya. Dia menganggap Kalpataru sebagai amanah dan pemompa motivasi.

Ipin sepenuhnya sadar, penghargaan tersebut sungguh tiada arti jika tidak mampu mengilhami dan menggerakkan masyarakat di sekitarnya untuk turut peduli lingkungan. Bukan bantuan berupa uang yang diharapkan. Bahkan, dia sering menolak mentah mentah bantuan uang yang datang dari sejumlah lembaga. Baginya, bantuan yang jauh lebih berharga adalah partisipasi dan tindakan nyata untuk bersama sama mengayunkan lengan dan berbagi keceriaan dalam peluh.

“Penghargaan ini semoga memotivasi banyak pihak terutama pemerintah untuk turun langsung bekerja bersama dalam hal lingkungan. Jika ingin membantu pelestarian alam di kaki Gunung Papandayan atau di manapun itu, jauh lebih baik kalau bantuannya berupa tenaga, peralatan, dan barang yang dibutuhkan,” tuturnya.

Menurutnya, piala Kalpataru bisa berdebu dan usang di sudut ruangan tetapi kebajikan yang nyata akan dikenang lama setelah kematian. Seluruh kisahnya boleh jadi selaras dengan bait yang digaungkan Bimbo, “Kalpataru Kalpataru/Amanah dan harapan/Kalpataru Kalpataru/Ingatlah dan ingatkan. (Yusuf Wijanarko)***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s